Rilive.id

Relevant Insight and Digital Native

Berita

Ini Strategi CSR PT Freeport Indonesia dalam Penguatan Ekonomi dan Kesehatan Masyarakat Ring Satu Gresik

Rilive – PT Freeport Indonesia (PTFI) mengimplementasikan pendekatan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) berbasis peningkatan kapasitas (capacity building) dalam penguatan struktur sosial ekonomi masyarakat di wilayah ring 1 operasional Gresik. Strategi ini menitikberatkan pada pengembangan sumber daya manusia, penguatan kelembagaan ekonomi desa, serta intervensi kesehatan lingkungan secara terintegrasi.

Superintendent CSR PTFI, Nana Suharna, menjelaskan bahwa program yang dijalankan tidak lagi bersifat karitatif, melainkan dirancang sebagai intervensi berkelanjutan dengan indikator dampak yang terukur.

“Kami mengedepankan pendekatan pemberdayaan. Artinya, masyarakat tidak hanya menerima manfaat jangka pendek, tetapi memperoleh peningkatan kapasitas yang berdampak jangka panjang,” ujarnya dalam kegiatan Buka Puasa Bersama Jurnalis di Gresik.

Tetap Buka Saat Ramadan, Warga Bersyukur Masih Bisa Urus Pertanahan di Hari Libur

Pada sektor ekonomi produktif, PTFI mengembangkan tiga skema utama pemberdayaan UMKM. Program Jawara Jabar difokuskan pada inkubasi dan penguatan pelaku usaha tanpa diskriminasi latar belakang pendidikan maupun gender. Intervensi dilakukan melalui pelatihan manajerial, penguatan model bisnis, serta peningkatan literasi kewirausahaan.

Program Srikandi Preneur secara spesifik menyasar perempuan wirausaha sebagai aktor penting dalam ketahanan ekonomi rumah tangga. Sementara E-Bestari (BUMDes Lestari dan Mandiri) diarahkan untuk meningkatkan kapasitas tata kelola dan strategi usaha Badan Usaha Milik Desa agar mampu bertransformasi menjadi entitas ekonomi desa yang adaptif dan berdaya saing.

“Kami melihat BUMDes memiliki potensi besar, tetapi masih membutuhkan penguatan kapasitas dalam perencanaan usaha dan pengelolaan bisnis. Melalui pelatihan dan pendampingan, kami mendorong terciptanya model usaha yang lebih berkelanjutan,” jelas Nana.

Panduan Makan Sebelum dan Sesudah Lari agar Energi Tetap Stabil

Di bidang ketenagakerjaan, PTFI mengintegrasikan pelatihan vokasi dengan sertifikasi kompetensi yang diakui secara nasional. Dalam dua tahun terakhir, sebanyak 740 warga Gresik telah mengikuti pelatihan dan memperoleh sertifikat kompetensi. Program ini dirancang untuk meningkatkan employability masyarakat lokal di tengah pertumbuhan kawasan industri di Gresik.

“Sertifikasi menjadi instrumen penting dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja. Dengan kompetensi yang terstandar, peluang masyarakat untuk terserap di sektor industri menjadi lebih besar,” katanya.

Pada 2026, program tersebut dilanjutkan dengan target tambahan 160 peserta. Selain itu, PTFI juga menginisiasi pendidikan kesetaraan setara Paket C bagi warga berusia di atas 36 tahun yang tidak dapat mengakses program pemerintah karena batasan usia. Langkah ini bertujuan mengatasi hambatan administratif yang menghalangi partisipasi masyarakat dalam pelatihan kerja.

“Banyak warga terkendala ijazah SMA sehingga tidak dapat mengikuti pelatihan vokasi. Kami mencoba menyelesaikan persoalan tersebut dari sisi akses pendidikan,” tambahnya.

Gajah Ratna Mati Saat Dirawat di R-Zoo & Park, Diduga Gagal Fungsi Ginjal dan Hati

Intervensi juga dilakukan pada sektor kesehatan lingkungan melalui program penyediaan akses air bersih dan peningkatan sanitasi. Bekerja sama dengan PDAM dan mitra yayasan, PTFI menyalurkan akses air bersih di sejumlah desa yang sebelumnya bergantung pada sumber air dengan kualitas kurang layak. Program pembangunan dan perbaikan fasilitas sanitasi dilaksanakan untuk menekan risiko penyakit berbasis lingkungan.

Menurut Nana, integrasi antara pemberdayaan ekonomi, peningkatan kompetensi tenaga kerja, dan perbaikan kualitas lingkungan merupakan fondasi dalam membangun kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan.

“Tujuan akhirnya adalah peningkatan kualitas hidup masyarakat ring 1 secara komprehensif, baik dari sisi ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan,” pungkasnya.

Pendekatan ini menunjukkan pergeseran paradigma CSR dari sekadar distribusi bantuan menuju model pembangunan berbasis kapasitas dan keberlanjutan yang selaras dengan dinamika pertumbuhan industri di wilayah Gresik. (fla)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup
Banner Iklan