Wayang Beber, Leluhur Wayang Nusantara yang Nyaris Terlupakan

Lestari : Lukisan gulungan Wayang Beber menampilkan adegan kisah klasik Jawa dengan warna-warna khas yang masih terjaga hingga kini.

RILIVE – Lebih tua dari wayang kulit dan golek, Wayang Beber menjadi salah satu warisan seni pertunjukan Nusantara yang kini jarang dipentaskan. Padahal, kesenian ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh pemerintah pada 2015.

Wayang kulit dan wayang golek selama ini lebih dikenal masyarakat. Namun jauh sebelum keduanya berkembang, wayang beber sudah hadir sebagai media pertunjukan berbentuk lembaran bergambar yang menceritakan sebuah lakon secara berurutan.

Kenalan dengan Ghost Lashes, Tren Kecantikan Simpel yang Diminati Gen Z.

Nama “beber” sendiri diambil dari cara memainkannya, yakni dengan membeberkan atau membentangkan gulungan kertas bergambar di hadapan penonton. Dalam pementasannya, dalang duduk bersimpuh di depan gulungan wayang dan membentangkannya satu per satu menggunakan lonjoran kayu yang disebut seligi.

Setiap gulungan biasanya berisi empat adegan, dan dalam satu lakon terdapat enam gulungan. Cerita disampaikan melalui narasi dalang yang menghidupkan gambar-gambar pada lembaran tersebut.

Pertunjukan umumnya berlangsung sekitar 90 menit dengan iringan gong, kenong, kendang, dan rebab. Sebelum pementasan dimulai, dalang terlebih dahulu menggelar ritual kecil menggunakan kemenyan, bunga setaman, dan sesaji sebagai simbol permohonan keselamatan.

Panduan Makan Sebelum dan Sesudah Lari agar Energi Tetap Stabil

Secara historis, wayang beber telah ada sejak 1223 M pada masa Kerajaan Jenggala. Saat itu, gambar wayang masih dilukis di atas daun siwalan atau lontar. Pada 1244 M, media lukis berkembang menjadi kertas berbahan kayu yang dihiasi ornamen. Memasuki 1316 M pada era Kerajaan Majapahit, setiap ujung lembaran dipasangi tongkat kayu untuk memudahkan penggulungan dan penyimpanan.

Perubahan kembali terjadi pada masa Kesultanan Demak sekitar 1518 M. Ilustrasi manusia dan hewan dibuat lebih miring sebagai bentuk penyesuaian dengan ajaran Islam. Dari proses modifikasi inilah kemudian berkembang wayang purwa berbahan kulit yang kini lebih dikenal masyarakat luas.

7 Koper Wisatawan Asal Thailand Raib di Bromo, Satu Paspor Ikut Hilang

Wayang beber juga pernah dibuat ulang pada 1690 oleh Kerajaan Kartasura dengan lakon Joko Kembang Kuning. Namun, peristiwa pemberontakan pada 1735 membuat koleksi wayang terpecah karena keluarga kerajaan mengungsi ke wilayah Gunungkidul dan Pacitan.

Kini, wayang beber tertua tersimpan di Desa Karangtalun, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, dan di Desa Gelaran, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa di balik popularitas wayang kulit, ada warisan seni yang lebih tua dan menyimpan sejarah panjang perjalanan budaya Jawa. (nan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup
Banner Iklan