Jadi Khatib Iduladha, Menteri Nusron Ajak Umat “Sembelih” Ego dan Keserakahan

JAKARTA – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid mengajak umat Islam menjadikan Iduladha sebagai momentum memperkuat ketakwaan sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial. Pesan tersebut disampaikannya saat menjadi khatib Salat Iduladha 1447 Hijriah di Masjid Raya Al-Ittihaad, Jakarta, Rabu (27/5).

Di hadapan ratusan jamaah, Nusron menegaskan bahwa makna Iduladha tidak berhenti pada ritual penyembelihan hewan kurban semata. Menurutnya, terdapat pesan yang jauh lebih besar, yakni bagaimana setiap muslim mampu menaklukkan ego, hawa nafsu, keserakahan, dan sikap abai terhadap sesama manusia.

“Di balik semua takbir dan semarak kurban ini, ada pesan besar yang tidak boleh kita lupakan dalam Iduladha. Iduladha bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi tentang menyembelih ego, hawa nafsu, keserakahan, dan rasa tidak peduli kita kepada sesama, terutama sesama umat manusia,” ujar Nusron dalam khutbahnya.

Berantas Mafia Tanah, ATR/BPN Ajak Masyarakat Aktif Melapor

Ia menjelaskan, ibadah kurban sejatinya merupakan sarana untuk melatih keikhlasan, menundukkan diri di hadapan Allah SWT, serta membersihkan hati dari berbagai sifat yang dapat menjauhkan manusia dari nilai-nilai kemanusiaan. Semakin tinggi ketakwaan seseorang, kata dia, seharusnya semakin besar pula kepeduliannya terhadap orang lain.

“Semakin tinggi ketakwaan seseorang kepada Allah, seharusnya semakin besar kepeduliannya kepada manusia lainnya,” tuturnya.

Kementerian ATR/BPN Kawal Kepastian Hukum dalam Penataan Kawasan Hutan Bersama Satgas PKH

Nusron juga mengingatkan bahwa yang sampai kepada Allah SWT bukanlah daging maupun darah hewan kurban, melainkan ketakwaan dan ketulusan hati orang yang berkurban. Karena itu, ibadah kurban harus mampu melahirkan pribadi yang rela berbagi, peduli, dan berkorban demi kemaslahatan bersama.

Dalam khutbahnya, Nusron menyoroti tantangan yang dihadapi masyarakat modern saat ini. Menurutnya, persoalan yang muncul tidak hanya berkaitan dengan kemiskinan materi, tetapi juga kemiskinan hati yang ditandai dengan berkurangnya empati dan kepedulian sosial.

Ia menilai, tidak sedikit orang yang hidup berkecukupan namun kehilangan rasa empati. Ada pula yang memiliki ilmu pengetahuan tinggi tetapi sulit menghargai orang lain, bahkan rajin beribadah namun masih enggan menunjukkan kepedulian kepada sesama.

“Padahal Rasulullah SAW mengajarkan sekaligus mengingatkan kepada kita, tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri,” katanya.

Kementerian ATR/BPN Peringati Harkitnas ke-118, Tegaskan Semangat Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara

Pada momentum Iduladha tersebut, Nusron mengajak umat Islam melakukan refleksi diri. Ia mengingatkan agar setiap ibadah yang dijalankan tidak hanya berhenti pada aspek ritual, tetapi juga mampu membawa perubahan sikap dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, ketakwaan yang benar akan selalu melahirkan empati, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Karena itu, Iduladha harus menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus mempererat hubungan antarsesama manusia.

“Kalau ada yang renggang, mari kita damaikan. Kalau ada yang terluka, mari kita maafkan. Karena ketakwaan sejati bukan hanya di sajadah, tetapi juga dalam kepedulian kepada sesama,” pungkasnya. (sit)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup
Banner Iklan